Mediapesisirnews.com - Sejak tahun 2019, aku, Aris, mengira aku sedang membangun sebuah benteng masa depan bersama Fitri, istriku. Kami diberkahi dua buah hati yang lucu, yang menjadi satu-satunya alasan kakiku masih sanggup berpijak bumi. Namun, kenyataannya, benteng itu hanyalah istana pasir yang perlahan runtuh, sementara fondasinya berdiri di atas bara api yang disulut oleh orang yang paling kucintai.
Puncaknya terjadi pada hari yang seharusnya fitri, Idul Adha 1447 Hijriah, tahun 2026 yang kelabu. Sebuah candaan ringan keluar dari mulutku, sebuah kalimat 'longgar' dalam bahasa melayu londo yang biasa kami gunakan. Entah apa yang memicunya, Fitri tersinggung hebat. Suaranya melengking tinggi, memecah keheningan rumah mertua tempat kami menumpang. Bukan hanya kata-kata, tapi tangannya melayang, menampar pipiku berkali-kali. Aku diam, terpaku bukan karena takut, tapi karena hancur. Diamku adalah upayaku menjaga kehormatannya sebagai istri di depan tembok rumah orang tuanya.
Sejak hari itu, duniaku senyap. Fitri mendiamkanku, tidak mau menegur sapa. Rasa sakit fisiku hilang, tapi rasa sakit di hati menular menjadi lubang yang menganga. Kebisuannya lebih menyiksa dari makian.
Alek Marzen: Penulis Cerpen di Mediapesisirnews.com, sekaligus Pimpinan Redaksi mediapesisirnews.com. Istana Pasir di Atas Bara, Cerpen edisi: 05 Juni 2026.
Empat hari kemudian, penderitaanku bertambah. Adik-adik kandungku bertamu, dan di depan mereka, Fitri tumpah ruah. Aku yang sedang berada di belakang rumah, mendengar setiap kata yang diucapkannya kepada adik cewekku kedua.
"Aku muak melihat mukanya," cetus Fitri dingin. "Kalo dia ada di rumah, rasanya sumpek."
Hati ku bagai diiris sembilu. Selama ini, aku menutup rapat aib rumah tanggaku. Tidak pernah sepatah kata buruk tentang sikap istriku keluar dari mulutku kepada siapa pun, termasuk keluargaku sendiri. Bagiku, dia adalah kehormatan ku, aibnya adalah aibku. Namun, hari itu, dia sendiri yang meruntuhkan benteng pertahananku di depan adik-adikku.
Lama aku merenung di kegelapan belakang rumah. Bayangan perlakuan selama ini berputar. Aku sering merasa tidak diperlakukan sebagai seorang suami. Setiap kali aku menginginkan hak batin, Fitri selalu menuntut uang. "Kalau nggak ada duit, nggak bisa main," ketusnya. Padahal, uang belanja harian selalu kupenuhi tanpa absen. Tapi untuk momen intim, dia meminta paling sedikit 300 ribu, bahkan 500 ribu. Hatiku hancur, setiap nafkah batin terasa seperti transaksi dagang. Aku diam, menelan ludah kepahitan demi keutuhan keluarga kecilku.
Kekejaman verbal juga menjadi santapan harian. Kata-kata kasar seperti 'babi' dan 'bodoh' sering dilemparkannya kepadaku, bahkan di depan keluarga besarnya sendiri. Aku bertahan, sadar posisi sebagai menantu yang masih menumpang di rumah mertua.
Yang paling memilukan adalah ketika amarahnya memuncak, dia melampiaskannya kepada anak gadis kecilku yang baru akan menginjak usia 6 tahun. Anak sekecil itu harus menanggung beban emosi ibunya yang tak terkendali. Pernah suatu kali, dalam amarah yang buta, Fitri melemparkan parang ke arahku. Parang itu melesat cepat, hampir mengenai tubuhku. Aku hanya bisa mengelak, lalu terdiam dalam kesabaran yang semakin menipis.
Satu-satunya harapanku saat ini adalah rumah kecil yang sedang kami bangun. Letaknya tidak jauh dari rumah mertua, tapi di situlah impianku akan privasi dan kedamaian berada. Prosesnya berangsur-angsur, tapi tak lama lagi siap. Seng sudah terpasang, melindungi fondasi dari hujan. Tinggal dinding dan lantai lagi yang belum dikerjakan. Aku memfokuskan sisa energi dan materi ke sana, berharap dinding-dinding rumah baru itu nanti bisa menjadi perisai dari kehancuran emosional ini.
Kini aku berdiri di persimpangan jalan yang gelap. Kesabaranku, yang kusangka tak bertepi, kini sudah menyentuh dasarnya. Kehormatan yang kucoba jaga, telah diinjak-injak oleh orang yang seharusnya menjadi partner hidupku. Aku tak tahu harus bersikap apa ke depannya, bagaimana melindungi anak-anakku, dan bagaimana menyembuhkan luka yang sudah terlalu dalam ini. Harapan itu masih ada, setipis seng yang menutupi rumah kecilku, tapi bara di bawah istana pasirku semakin panas, mengancam untuk menghanguskan segalanya.
Catatan Redaksi: Pernyataan Disklaimer Karya Fiksi
Judul Karya: Istana Pasir di Atas Bara
Penulis: Alek Marzen
CATATAN REDAKSI:
Karya sastra berupa cerita pendek (cerpen) yang berjudul "Istana Pasir di Atas Bara" ini sepenuhnya bersifat fiksi.
Segala kesamaan nama tokoh, karakter, alur cerita, latar tempat, maupun peristiwa yang terdapat dalam cerpen ini adalah murni kebetulan belaka dan merupakan hasil rekaan kreatif penulis demi keperluan dramatisasi karya seni.
Karya ini tidak merepresentasikan kejadian nyata, individu tertentu, maupun institusi apa pun di dunia nyata. Pembaca diharap menyikapi karya ini secara bijak sebagai bentuk ekspresi literatur semata.








