Home / Pendidikan

Karmila Sari Dorong Mahasiswa UIR Kuasai AI, Tetap Utamakan Integritas dan Nalar Kritis

Media Pesisir News - 12 September 2026, 21:18 WIB , Dibaca 55x

Karmila Sari Dorong Mahasiswa UIR Kuasai AI, Tetap Utamakan Integritas dan Nalar Kritis

Mediapesisirnews.com, PEKANBARU - Anggota Komisi X DPR RI Dr. Hj. Karmila Sari, SKom, MM, mendorong mahasiswa Universitas Islam Riau (UIR) untuk menguasai dan memanfaatkan artificial intelligence (AI) sebagai bagian dari perkembangan pembelajaran dan penelitian di perguruan tinggi.

Namun, di tengah kemajuan teknologi tersebut, Karmila mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan AI sebagai pengganti kemampuan berpikir. Menurutnya, kemudahan teknologi harus berjalan beriringan dengan nalar kritis, integritas akademik, serta tanggung jawab intelektual.

Pesan tersebut disampaikan Karmila saat menjadi keynote speaker dalam Workshop “Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Penelitian dan Pembelajaran yang Berkualitas untuk Mahasiswa” yang digelar di Gedung Rektorat UIR, Sabtu (12/9/2026).

Karmila mengatakan, kehadiran AI memberikan banyak kemudahan bagi mahasiswa, terutama dalam mencari, mengelompokkan, menyaring referensi, mengeksplorasi gagasan, hingga membantu proses penyusunan karya ilmiah.

Meski demikian, mahasiswa tetap harus memiliki kemampuan untuk membaca, memahami, menganalisis, dan menilai setiap informasi yang diperoleh melalui teknologi tersebut.

"Kita sebagai akademisi adalah akademisi yang terlatih untuk berpikir kritis, bukan akademisi yang sangat dipermudah dengan fasilitas," kata Karmila.

Wakil Ketua Umum PP KPPG itu menegaskan, AI harus ditempatkan sebagai alat bantu untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan mengambil alih peran manusia dalam memahami persoalan, menganalisis informasi, mengambil keputusan, maupun mempertanggungjawabkan hasil penelitian.

"AI hadir untuk menjadi alat, bukan menggantikan posisi kita," tegasnya.

Riset Harus Memberi Manfaat

Karmila juga mengingatkan mahasiswa agar tidak memandang karya ilmiah, seperti skripsi, tesis, dan disertasi, semata-mata sebagai kewajiban untuk memperoleh gelar akademik.

Menurutnya, penelitian yang dilakukan mahasiswa seharusnya memiliki nilai manfaat, mampu menjawab persoalan yang berkembang di tengah masyarakat, serta dapat dikembangkan dan diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

"Jangan melihat hanya kebutuhan sendiri, yang penting saya lulus. Karya ilmiah yang diwujudkan dalam skripsi, tesis dan disertasi adalah sesuatu yang bermanfaat dan bisa diteruskan ataupun diaplikasikan," ujarnya.

Ia juga mendorong mahasiswa untuk meningkatkan budaya menulis dan produktivitas penelitian. Dalam konteks tersebut, AI dinilai dapat dimanfaatkan untuk mempercepat proses belajar, membantu eksplorasi ide, serta mendukung pengembangan tulisan dan jurnal penelitian.

Menurut Karmila, mahasiswa juga perlu melihat peluang pengembangan riset melalui berbagai skema pendanaan penelitian, termasuk kesempatan yang tersedia melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

AI Bukan Pengganti Kecerdasan Mahasiswa

Pandangan tersebut diperkuat oleh Prof. Dr. Arbi Haza Nasution yang menjadi salah satu narasumber dalam workshop. Ia menjelaskan bahwa AI bekerja dengan memanfaatkan data untuk membangun model, melakukan pembelajaran, menghasilkan informasi, hingga membantu proses pengambilan keputusan.

"AI itu tidak bisa bekerja tanpa data. Dari data itu AI membuat model, belajar, kemudian menghasilkan informasi dan membantu mengambil keputusan," ujarnya.

Arbi mengatakan, mahasiswa dapat memanfaatkan AI sebagai mitra belajar, antara lain untuk memahami konsep, memperoleh contoh penerapan, membuat soal latihan, hingga mendapatkan umpan balik terhadap jawaban.

Namun, ia mengingatkan agar mahasiswa tidak menyerahkan seluruh proses akademiknya kepada AI dan kemudian menggunakan hasilnya secara mentah.

"AI bukan pengganti kecerdasan mahasiswa. AI adalah mitra untuk memahami lebih dalam dan meneliti lebih teliti,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya kemampuan menyusun prompt yang tepat. Mahasiswa perlu memberikan konteks, tugas, format, serta batasan yang jelas agar keluaran AI sesuai dengan kebutuhan.

Kompetensi Manusia Tetap Dibutuhkan

Sementara itu, Assoc. Prof. Dr. Susandri, SKom, MKom, mengingatkan bahwa perkembangan AI akan turut mengubah kebutuhan kompetensi di dunia kerja.

Sejumlah pekerjaan yang sebelumnya banyak dilakukan manusia mulai mengalami perubahan seiring berkembangnya teknologi AI, termasuk pekerjaan administratif, desain grafis, analisis data, hingga penyusunan laporan.

Namun, kondisi tersebut menurutnya tidak semestinya hanya dipandang sebagai ancaman. Mahasiswa justru perlu membangun kemampuan yang sulit digantikan teknologi, seperti memahami persoalan, menentukan fokus analisis, mengevaluasi informasi, serta menjelaskan dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan.

"Yang penting bukan seberapa cepat menghasilkan tulisan atau laporan, tetapi seberapa cermat mengedit, memahami, mengembangkan, dan mempresentasikannya,” ujarnya.

Integritas Akademik Jadi Kunci

Rektor UIR Assoc. Prof. Dr. Admiral menegaskan bahwa pemanfaatan AI di lingkungan perguruan tinggi harus tetap berada dalam koridor integritas dan etika akademik.

Menurutnya, AI merupakan tools yang membantu manusia. Mahasiswa tetap menjadi subjek sekaligus pihak yang bertanggung jawab terhadap karya maupun penelitian yang dihasilkan.

"Kita adalah subjeknya, bukan AI. AI adalah tools. Karena itu, kitalah yang menjadi penentu dalam menggunakan tools tersebut,” kata Admiral.

Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak menerima informasi yang dihasilkan AI secara mentah. Teknologi tersebut tetap memiliki keterbatasan dan berpotensi menghasilkan informasi yang keliru, termasuk sumber maupun kutipan yang tidak sesuai dengan fakta.

AI, kata Admiral, tetap dapat dimanfaatkan untuk membantu memperbaiki tata bahasa, menemukan ide, mencari referensi, maupun mendukung analisis data. Namun, seluruh informasi yang diperoleh harus melalui proses verifikasi.

"Yang harus kita kejar bukan lagi apakah mahasiswa menggunakan AI atau tidak, tetapi bagaimana ketika dia diuji, dia mampu mempertanggungjawabkan dan memahami apa yang sudah ditulisnya,” ujarnya.

Workshop tersebut turut dihadiri perwakilan Kemendiktisaintek Danu Alsaheri Caniago, Eri Widiarto dan Aristagunawan, Wakil Rektor I UIR Prof. Dr. H. Fathurrahman, serta moderator workshop Dr. Septian Wahyudi. (***). 

Editor: Redaksi

Share :

Terpopuler


Kejaksaan Agung Memeriksa 2 Saksi Terkait Perkara Impor Gula

Terpopuler

28 November 2023, 18:59 WIB

Kejaksaan Agung Memeriksa 2 Saksi Terkait Perkara Impor Gula

Berita Terbaru


Karmila Sari Minta Sekolah Benahi Data untuk Percepat Revitalisasi

Berita Terbaru

06 September 2026, 21:19 WIB

Karmila Sari Minta Sekolah Benahi Data untuk Percepat Revitalisasi

Berita Lama


Daftar 14 Negara yang Dilarang Masuk Indonesia Mulai Hari Ini

Berita Lama

07 Januari 2022, 11:39 WIB

Daftar 14 Negara yang Dilarang Masuk Indonesia Mulai Hari Ini
Ashanty Positif Omicron Usai Pulang dari Turki

Berita Lama

07 Januari 2022, 11:42 WIB

Ashanty Positif Omicron Usai Pulang dari Turki
DPD TOPAN RI Rohil Silaturahmi Ke Desa Aek Batu

Berita Lama

10 Januari 2022, 03:27 WIB

DPD TOPAN RI Rohil Silaturahmi Ke Desa Aek Batu