MEDIAPESISIRNEWS.com, PEKAITAN | Menoleh ke belakang untuk memahami asal-usul kampung halaman adalah bentuk penghormatan terbaik bagi para pendahulu.
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan kesehatan-Nya, serta shalawat dan salam bagi junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, sehingga kita dapat kembali merajut memori kolektif mengenai berdirinya Parit Arang di Desa Sungai Besar.
Sejarah ini bukan sekadar narasi, melainkan sebuah estafet cerita yang dijaga melalui tradisi lisan, keterangan para tokoh adat, dan sesepuh desa.
Berdasarkan penuturan Zakaria, salah seorang tokoh masyarakat setempat, berikut adalah catatan perjalanan sejarah yang membentuk wajah Parit Arang hingga saat ini.
Era Awal Kepemimpinan: Masa Dolah hingga Khalifah Daud
Langkah awal Desa Sungai Besar dalam administrasi kampung dimulai pada tahun 1919. Kala itu, tampuk kepemimpinan dipegang oleh Dolah, yang memimpin selama 19 tahun hingga tahun 1938. Setelah masa pengabdiannya usai, kepemimpinan dilanjutkan oleh Khalifah Daud, figur yang kelak menjadi saksi bisu lahirnya nama "Parit Arang".
Kelahiran Nama Parit Arang (1938–1945)
Sekitar tahun 1938, kawasan Parit Arang dihuni oleh kurang lebih 12 kepala keluarga. Nama-nama seperti Daud, Atan Ogol, Ujang, dan Khalifah Hasan tercatat sebagai penduduk awal yang bermukim di sana.
Sejarah besar dimulai ketika seorang warga keturunan Tionghoa bernama Acai datang menghadap Khalifah Daud. Ia memohon izin untuk mengelola kayu bakau sebagai bahan baku arang.
Melalui kesepakatan yang mufakat, dimulailah pembuatan parit sepanjang 2 kilometer dari sungai menuju arah danau guna mengangkut hasil hutan tersebut.
Pekerjaan ini dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat Desa Sungai Besar. Namun, sejarah mencatat sebuah tragedi memilukan; Wan Jalil, salah seorang pekerja (yang juga merupakan kakek dari Arifudin, mantan Ketua LPM Desa Sungai Besar 2020), gugur dalam tugasnya akibat serangan buaya saat sedang mengeluarkan kayu menggunakan sampan.
Selama tujuh tahun (1938–1945), dapur-dapur arang beroperasi di kawasan ini. Jejak fisik berupa bekas dapur arang tersebut bahkan masih bisa ditemui hingga kini sebagai bukti autentik mengapa kawasan ini dinamakan Parit Arang.
Regenerasi dan Masuknya Industri Migas
Setelah masa jabatan Khalifah Daud, kepemimpinan beralih kepada Ujang (ayah dari Arahman PU) yang menjabat cukup lama, yakni 27 tahun (1945–1972).
Estafet kepemimpinan kemudian diteruskan oleh Sudirman Karto mulai tahun 1972.
Di bawah kepemimpinan Penghulu Sudirman Karto, dinamika desa berubah seiring masuknya perusahaan migas asal Amerika, Caltex, pada tahun 1974. Kehadiran Caltex bertujuan untuk melakukan pengeboran minyak di wilayah Parit Arang.
Proses pembukaan lahan dilakukan oleh sekitar 20 pekerja lokal, di antaranya Ahmad Daud, Mujid, dan Bahar Majid, yang membuka akses jalan sepanjang 1,8 kilometer.
Sebuah catatan penting terjadi ketika H. Anas Maamun, yang saat itu menjabat di Dinas PMD Kabupaten Bengkalis, mendarat dengan helikopter di Parit Arang untuk menjemput Sudirman Karto guna urusan kedinasan di ibu kota kabupaten.
Era Modern dan Program K2I
Pasca pengabdian Sudirman Karto selama 35 tahun, pada akhir 2007, Saparudin Daud resmi dilantik sebagai Penghulu Sungai Besar oleh Bupati Rokan Hilir saat itu di jabat oleh H. Annas Maamun.
Di era inilah, Parit Arang mulai menyentuh modernisasi melalui program K2I (Kemiskinan, Kebodohan, dan Infrastruktur) pada tahun 2008 yang bertujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Penutup
Kini, 88 tahun telah berlalu sejak parit pertama digali dan dapur arang pertama menyala. Nama Parit Arang tetap abadi, bukan hanya sebagai titik geografis, melainkan sebagai monumen perjuangan, kerja keras, dan pengorbanan para leluhur Desa Sungai Besar.
Semoga sejarah ini tetap hidup di sanubari generasi muda sebagai bekal membangun masa depan yang lebih baik.
Sumber: Zakaria (Tokoh Masyarakat Desa Sungai Besar)
Diedit kembali, Mediapesisirnews.com di Bagansiapiapi, 13 Mei 2026.
Editor: Alek Marzen/Red.








