Mediapesisirnews.com, Bagansiapiapi – Permainan rakyat tradisional Lukah Gilo kembali menjadi perhatian masyarakat setelah ditampilkan dalam pesta pernikahan putra dari Jasmadi, anggota DPRD Kabupaten Rokan Hilir, di Kota Bagansiapiapi pada Minggu 19 Juli 2026 malam.
Penampilan tersebut dipimpin oleh Agus bin Rasyid, yang dikenal sebagai salah satu pelestari sekaligus pemain senior Lukah Gilo di daerah itu.
Bagi masyarakat Melayu di Riau, Lukah Gilo bukan sekadar hiburan, tetapi merupakan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Permainan ini telah hadir sejak sekitar tahun 1985 dan hingga kini masih terus dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat.
Agus bin Rasyid mengatakan, sejak kecil dirinya mempelajari permainan tersebut dari paman kandungnya. Berbekal ilmu yang diwariskan keluarganya, ia terus menjaga keberlangsungan tradisi agar tidak hilang ditelan zaman.
"Ini adalah permainan rakyat yang diwariskan secara turun-temurun. Dahulu sering ditampilkan pada pesta pernikahan, khitanan, hingga berbagai acara adat masyarakat," ujarnya, Senin (20/7) kepada mediapesisirnews.com.
Seiring perkembangan waktu, Lukah Gilo tidak hanya menjadi hiburan dalam acara keluarga, tetapi juga mulai tampil pada berbagai kegiatan pemerintah maupun masyarakat, seperti peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus, hari ulang tahun daerah, festival budaya, dan berbagai agenda hiburan lainnya.
Secara fisik, Lukah Gilo dibuat menyerupai alat penangkap ikan tradisional yang terbuat dari bambu. Bagian atasnya dihiasi topi anyaman pandan, dengan ukuran sekitar 60 sentimeter dan tinggi mencapai satu meter. Meski tampak sederhana, permainan ini membutuhkan kekompakan dan tenaga para peserta.
Dalam setiap pertunjukan, sedikitnya enam orang diperlukan untuk memainkan Lukah Gilo, bahkan jumlah pemain dapat mencapai sepuluh orang agar permainan berlangsung semakin menarik. Atraksi yang ditampilkan sering mengundang decak kagum karena gerakan lukah yang tampak sulit dikendalikan sehingga menciptakan suasana meriah dan menghibur penonton.
Menurut Agus, pertunjukan Lukah Gilo umumnya digelar pada malam hari. Untuk sekali tampil, biaya jasa berkisar antara Rp1 juta hingga Rp1,5 juta, tergantung jarak lokasi dan jenis kegiatan yang diselenggarakan.
Di tengah derasnya arus modernisasi, keberadaan Lukah Gilo menjadi bukti bahwa permainan rakyat tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat. Selain menjadi hiburan, permainan ini juga menjadi media pelestarian budaya Melayu yang sarat nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap warisan leluhur.
Pelestarian permainan seperti Lukah Gilo diharapkan terus mendapat dukungan dari berbagai pihak, sehingga generasi muda tidak hanya mengenal budaya melalui cerita, tetapi juga dapat menyaksikan dan ikut menjaga keberlangsungan salah satu kekayaan budaya Rokan Hilir yang telah diwariskan selama puluhan tahun.
Editor: Redaksi








